Contoh Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Pemerintah Belanda

Contoh Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Pemerintah Belanda – Tentunya kalian sudah mengetahui bahwa seluruh Rakyat Indonesia telah berjuang habis-habisan untuk merebutkan kemerdekaan dari para penjajah, tentu sedikit dari kalian telah tahu contoh-contoh perlawanan rakyat di berbagai daerah diseluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Contoh Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Pemerintah Belanda


1. Perang Saparua di Ambon

Perang Saparua ini merupakan bentuk perlawanan rakyat Ambon yang mana pada saat itu perlawanannya dipimpin oleh Thomas Matulesi atau biasa kita kenal dengan sebutan Kapitan Pattimura. Dalam perlawanan perang saparua ini, terdapat seorang pahlawan wanita yang bernama Christina Martha Tiahahu yang mana dia melakukan perlawanan dengan sangat gigih dan sangat berani. Perlawanan Kapitan Pattimura ini dapat terkalahkan setelah bantuan pasukan Belanda datang dari berbagai kota termasuk kota Jakarta. Kapitan Pattimuran sendiri bersama tiga pengikutnya tertangkap dan mereka semua dihukum gantung.

2. Perang Paderi Sumatera Barat

Perang Paderi di Sumatera Barat ini merupakan perlawanan terhadap belanda yang sangat menyita tenaga bahkan mengeluarkan biaya yang sangat besar bagi rakyat Sumatera Barat (minang) dan Belanda tentunya. Bersatunya kaum Ulama (Paderi) dan kaum adat yang ada di daerah Sumatera ini melawan Belandab, mengakibat penjajah Belanda sangat sulit untuk memadamkan perlawan Perang Paderi ini. Bantuan dari rakyat Aceh pun juga datang untuk mendukung pejuang dalam perang Paderi ini, yang mana pada saat itu Belanda benar-benar menghadapi musuh yang sangat sulit dan sangat tangguh.

Karena kesulitan itu belanda menerapkan sebuah sistem pertahanan yang disebut Benteng Stelsel. Benteng Fort de Kock di Bukit Tinggi dan Benteng Fort van der Cappelen yang merupakan dua benteng pertahanan yang pada waktu itu dimiliki oleh Belanda. Dengan siasat yang digunakan oleh belanda itu, akhir nya belanda menang dengan ditandai jatuhnya benteng pertahana terakhir yang dimiliki oleh kaum paderi di Bonjol pada tahun 1837. Pada waktu itu Tuanku Imam Bonjol, ditangkap dan ia pin diasingkan ke Priangan, kemudian diasingkan ke Ambon, dan terakhir diasingkan ke kota Manado hingga ia wafat pada tahun 1864.

3. Perang Diponegoro 1825-1830

Perang Diponegoro ini merupakan salah satu perang yang sangat besar yang saat itu dihadapi oleh Belanda. Latar belakang perang Diponegoro ini adalah diawalinya dari campur tangan Belanda terhadap urusan politik yang ada di Kerajaan Yogyakarta. Tindakan belanda itu dianggap meleceh harga diri dan nilai-nilai budaya yang dipegang teguh oleh rakyat,  yang mengakibatkan rakyat sangat benci terhadap Belanda. Pada waktu itu Belanda membangun jalan-jalan baru pada bulan Mei 1825, Belanda memasang patok-patok pada tanah leluhur diponegoro. Dan terjadilah perselisihan ketika salah satu pengikut Diponegoro Patih Danureja IV mencabuti patok-patok yang telah dipasang oleh belanda sebelumnya. Dengan gerak cepat belanda mengutus serdadu untuk mencegat serta menangkap Pangeran Diponegoro. Akibat penangkapan Pangeran Diponegoro itu maka terjadilah perang yang sama sekali tidak dapat dihindarkan, dan pada tanggal 20 Juli Tegalrejo sebagai basis (wilayah) pengikut Diponegoro direbut serta dibakar oleh Belanda.

Pada pertengahan tahun 1830 yakni tepatnya pada bulan Mei, Diponegoro bersedia melakukan perundingan dengan Belanda di kota Magelang, Jawa Tengah. Perundingan itu hanya sebagai jalan tipu muslihat rakyat belanda karena ternyata mereka menangkap Diponegoro yang mana langsung diasingkan ke Manado, kemudian ke kota Makasar hingga Diponegoro wafat pada tahun 1855. Setelah berakhirnya perang Diponegoro ini, maka tidak ada lagi muncul perlawanan-perlawanan yang lebih berat dari perlawanan Diponegoro ini.

Blockquote  : Perang Diponegoro merupakan perang perlawanan yang sangat besar. Sebanyak 8.000 tentara serdadu belanda dan 7.000 tentara yang disewa oleh belanda mati. Serta lebih 200.000 penduduk yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta meninggal dunia. Sehingga penduduk Yogyakarta hanya tinggal setengahnya saja. Nah, betapa gigihnya rakyat kita pada saat itu untuk menegakkan suatu keadilan dan mempertahankan harga diri!

4. Perang Aceh

Semangat jihad (perang dalam membela agama Islam) merupakan semangat spirit perlawanan rakyat Aceh pada saat itu. Jendral Kohler sendiri terbunuh saat perperangan di depan Masjid Baiturrahman Banda Aceh, Jendral Kohler sendiri meninggal sangat dekat dengan pohon yang sampai sekarang diberinama pohon Kohler. Siasat yang dinamakan Konsentrasi Stelesel dengan memiliki sitem pertahanan bertahan di dalam bentengn besar tetapi yang dilakukan belanda itu sama sekali tidak berhasil. Dan Belanda pun semakin terdesak, korban telah banyak berjatuhan, dan keuangan terus-menerus berkurang.

Belanda sendiri sama sekali tidak mampu menghadapi secara fisik perlawanan oleh Rakyat Aceh. Menyadari akan hal tersebut, Penjajah Belanda mengutus Dr. Snouck Hurgroje yang pada saat itu memakai nama samaran sebagai Abdul Gafar yang merupakan seorang ahli bahasa, sejarah, dan ahli Sosial Islam yang mana ia bertugas sebagai pencari kelemahan rakyat Aceh pada masa itu. Setelah Ia sangat lama belajar di Arab, Abdul Gafar ini memberikan tips serta saran bagaimana cara melawan rakyat Aceh. Menurut Ssnouck Hurgroje, Kota Aceh tidak akan mungkin dilawan dengan kekerasan, sebab karakter orang aceh sendiri memiliki jiwa yang tidak akan pernah menyerah, karena jiwa jihad atau jiwa perang dalam membela agama islam di Aceh sangatlah tinggi.

Taktik untuk menghancurkan rakyat Aceh adalah dengan mengadu domba antara Golongan ulama dengan golongan Uleebalang (bangsawan). Belanda waktu itu meng-iming-imingi kedudukan pada Uleebalang yang bersedia damai dengan serdadu belanda. Taktik yang dilakukan Belanda ini sangatlah manjur, banyaj para Uleebalang tertarik akan tawaran Belanda itu. Persyaratan Belanda itu memiliki tawaran kedudukan kepada para Bangsawan (uleebalang) apabila kaum bangsawan ini dapat mengalahkan Kaum ulama. Sejak tahun 1898 kedudukan kota Aceh sangatlah tertekan serta terdesak. Belanda mengumumkan bahwa perang Aceh ini telah berlalu pada tahun 1904. Namun, dengan demikian perlawanan rakyat aceh dengan sporadis masih berlanjut dari tahun ke tahun hingga sampai pada tahun 1930-an.

5. Perlawanan Sisingamangaraja di Sumatera Utara

Perlawanan terhadap belanda sendiri di daerah Sumatera utara sendiri dilakukan oleh Sisingamangaraja XII, perlawanan di Sumatera Utara ini terbilang sangatlah lama karena memakan waktu selama 24 Tahun. Pertempuran atau perlawanan diawali dair bahal batu yang mana merupakan sebagai Pusat Pertahanan Belanda pada tahun 1877.

Untuk menghadapi Perang batak (sebutan perang di Sumatera Utara, yang mana batak diambil dari nama suku yang terkenal di daerah Sumatera Utara), Belanda memanggil dan menarik pasukan yang ada di seluruh wilayah Aceh. Pasukan Sisingamangaraja dapa dikalahkan setelah Kapten Christoffel dengan berhasil mengepung seluruh benteng dan benteng terakhir Sisingamangaraja di Pakpak. Kedua putra Sisimangaraja ini yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur didalam pertempuran batak ini, sehingga seluruh daerah Tapanuli dibawah kekuasaan Belanda.

Mungkin itu saya beberapa Contoh Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Pemerintah Belanda, yang dapat ID Syahrul berikan, terimakasih telah berkunjung.

0 Response to "Contoh Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Pemerintah Belanda"

Post a Comment

Jika ada yang masih kurang jelas, silahkan untuk bertanya pada kolom komentar di bawah ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel